Sebuah Tindakan yang Sangat Bapak Benci Selain Perceraian
Kususuri jalan menuju rumah tempatku dilahirkan dan dibesarkan di daerah pinggiran kota. Setelah beberapa menit, akhirnya aku sampai juga di rumah masa kecilku. Rumah bercat hijau itu adalah rumah yang selalu mampu menenteramkanku sedari kecil, meski tanpa asuhan seorang ibu yang sudah meninggal sejak aku baru dilahirkan. Di rumah itu, hanya ada bapak yang selalu menjaga dan merawatku sepenuh cinta, tanpa mau menikah lagi. Bagaikan kesetiaannya menjaga pohon-pohon dan tanaman miliknya di rumah seluas 1.000-an meter, kesetiaan bapak terhadap ibu tiada duanya. Kokoh bagaikan sebatang pohon. Bahkan ketika mas Toto kudapati tengah mengantarkan seorang wanita bertubuh langsing, berkulit putih, dan berambut panjang hitam legam ke stasiun kereta menuju Bandung, bapak menguatkanku hingga nembuatku rela memaafkan mas Toto yang menangis penuh penyesalan di malam itu. "Nduk, setiap orang harus diberikan kesempatan kedua untuk berubah, karena manusia tidak ada yang sempurna, termasuk su...